Pro dan Kontra 48 Tim Di Piala Dunia 2026 Mendatang

Sebanyak 32 tim nasional akan berlaga di Piala Dunia 2018 pada 14 Juni hingga 15 Juli 2018 di Rusia. Rusia sebagai tuan rumah akan mendapat kesempatan menjalani laga pembukaan Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskwa, 14 Juli 2018. Lawannya adalah tim nasional Arab Saudi, urutan kedua pada Grup A.

Piala Dunia FIFA atau lebih kita kenal dengan Piala Dunia saja adalah kompetisi sepak bola Internasional yang diikuti oleh tim nasional putra senior anggota dari Federation Internationale de Football Association (FIFA), badan pengatur sepak bola dunia.

Kejuaran ini biasanya diselenggarakan tiap empat tahun sekali sejak turnamen pada tahun 1930, kecuali pada tahun 1942 dan 1946, yang tidak diselenggarakan karena Perang Dunia II. Juara Piala Dunia saat ini adalah Jerman, yang menjuari turnamen 2014 di Brasil.

Kabarnya, akan ada 48 tim yang ikut serta dalam perhelatan Piala Dunia 2026 mendatang. Peraturan tersebut dibuat oleh Presiden baru FIFA yaitu, Gianni Infantino.

Hal tersebut membuat banyak spekulasi, diantaranya adalah penambahan tim tersebut sekedar untuk politik bukan olahraga. Apakah benar itu? Daripada anda penasaran, ada baiknya anda cari tahu jawabannya di artikel ini.

Tapi, sebelum kami masuk dalam inti permasalahannya, mari kita simak dulu sejarah awal terbentuknya Piala Dunia yang sekarang begitu sangat populer di kalangan masyarakat.

Perkembangan Kejuaraan Piala Dunia

Format turnamen saat ini diikuti oleh 32 tim yang bersaing memperebutkan gelar juara di gelanggang olahraga di negara tuan rumah dalam waktu sekitar satu bulan, babak ini sering disebut dengan Final Piala Dunia.

Tahap kualifikasi, yang saat ini diselenggarakan dalam waktu tiga tahun menjelang Piala Dunia, digelar untuk menentukan tim mana yang akan lolos ke turnamen, bersama dengan negara tuan rumah.

19 turnamen Piala Dunia telah dimenangkan oleh delapan tim nasional berbeda. Brazil telah menjuarai Piala Dunia sebanyak lima kali dan merupakan satu-satunya tim yang secara rutin mengikuti setiap turnamen.

Juara Piala Dunia lainnya adalah Italia, dengan empat gelar juara, Jerman Barat dengan tiga gelar juara, Argentina dan Uruguay dengan dua gelar juara, serta Inggris, Perancis, dan Spanyol dengan satu gelar juara masing-masingnya.

Awal Mula Terbentuknya Piala Dunia

Jauh sebelum sepopuler sekarang ini, ternyata Piala Dunia masih kalah pamor dari ajang olahraga internasional yaitu, Olimpiade. Keberhasilan Turnamen Sepak Bola Olimpiade meningkatkan keinginan FIFA untuk memiliki kejuaraan dunia mereka sendiri.

Kuesioner dikirim ke asosiasi yang berafiliasi (berhubungan dengan bidangnya), menanyakan apakah mereka setuju dengan organisasi turnamen dan dalam kondisi apapun.

Panitia khusus memeriksa pertanyaan itu, dengan Presiden Jules Rimet sebagai kekuatan pendorong. Dia dibantu oleh Sekretaris Federasi Sepakbola Prancis, Henri Delaunay.

Setelah proposal yang luar biasa oleh Komite Eksekutif, Kongres FIFA di Amsterdam pada 28 Mei 1928 memutuskan untuk menggelar kejuaraan dunia yang diselenggarakan oleh FIFA. Sekarang, negara pengorganisasian harus dipilih. Hongaria, Italia, Belanda, Spanyol dan Swedia mengajukan pencalonan mereka.

Sejak awal, Uruguay adalah tim favorit dan tidak hanya untuk meraih medali emas Olimpiade pada tahun 1924 dan 1928, negara ini merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-100 pada tahun 1930 dengan biaya besar.

Selain itu, asosiasi nasionalnya juga bersedia menanggung semua biaya, termasuk perjalanan dan akomodasi dari tim yang berpartisipasi. Setiap keuntungan yang mungkin akan dibagi, sementara Uruguay akan mengambil defisit.

Argumen-argumen ini sangat menentukan. Kongres FIFA di Barcelona pada tahun 1929 ditugaskan Uruguay sebagai negara tuan rumah pertama dari Piala Dunia FIFA. Para kandidat lainnya telah ditarik.

Benua Eropa pada saat itu tengah dilanda krisis ekonomi, tidak semuanya berjalan untuk rencana selama hitungan mundur ke final pertama ini. Partisipasi tidak hanya melibatkan perjalanan laut panjang bagi orang Eropa, setiap klub-klub pun harus rela melepas pemain terbaik mereka selama dua bulan.

Akibatnya, semakin banyak asosiasi memutuskan janji mereka untuk berpartisipasi dan butuh banyak manuver oleh Rimet untuk memastikan setidaknya empat tim Eropa, yaitu Prancis, Belgia, Rumania dan Yugoslavia yang bergabung dengannya di liner Conte Verde menuju Buenos Aires

Piala Dunia FIFA pertama dibuka di Estadio Centenario di Montevideo pada 18 Juli 1930. Ini adalah awal dari sebuah era baru di dunia sepakbola dan acara perdananya terbukti sukses luar biasa, baik dalam hal olahraga dan keuangan.

Namun, pihak penyelenggara (Uruguay) merasa sedikit kecewa karena hanya empat pihak Eropa saja yang berpartisipasi. Kemarahan di Montevideo begitu kuat yang berujung pada empat tahun kemudian, Uruguay menjaadi juara Piala Dunia dan menjadi tim pertama serta satu-satunya yang menolak trofi juara.

Ketika Kongres diadakan di Budapest pada tahun 1930, ia mengucapkan terima kasih kepada Uruguay untuk menyelenggarakan kejuaraan dunia untuk pertama kalinya meski pada saat itu dalam kondisi yang sulit. Ini juga mencatat penyesalannya melihat hanya sedikit tim dari Eropa yang ikut berpatisipasi.

Pentingnya turnamen baru meningkat setelah kemunduran FIFA menjelang Olimpiade 1932 di Los Angeles. Setelah gagal menyelesaikan perbedaan pendapat atas status amatir pesepakbola dengan Komite Olimpiade Internasional mengenai status amatir pemain sepak bola, rencana untuk mengatur Turnamen Sepak Bola Olimpiade ditinggalkan.

Kemudian, FIFA memilih Italia di depan kandidat rival yaitu Swedia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA kedua dan kali ini butuh pertandingan kualifikasi sebelum akhirnya ikut serta menjadi 16 finalis.

Tidak seperti pada 1930, kali ini setiap pertandingan tidak ada yang namanya grup melainkan hanya babak sistem gugur, yang dimana Brazil dan Argentina pulang lebih dulu setelah kalah dari lawan masing-masing.

Sekali lagi, tim tuan rumah menang, Italia memenangkan Final melawan Cekoslovakia di perpanjangan waktu. Untuk pertama kalinya, Final pertandingan tersebut disiarkan oleh radio.

Empat tahun kemudian, Rimet melihat keinginannya terpenuhi ketika Piala Dunia FIFA ketiga berlangsung di Prancis, negara asalnya. Sekali lagi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Austria menghilang dari ajang tersebut dan membuat Swedia tidak memiliki lawan.

Uruguay masih tidak ingin berpartisipasi dan Argentina secara mengejutkan mengundurkan diri. Itulah sebabnya mengapa tim nasional dari Kuba dan Hindia Belanda (yang dikenal dengan Indonesia sekarang) datang ke Prancis. Kali ini, tidak ada kemenangan kandang dan Italia berhasil mempertahankan gelarnya.

Piala Dunia FIFA seharusnya terjadi untuk keempat kalinya pada tahun 1942 tetapi dikarenakan pecahnya Perang Dunia II membuat ajang ini dibatalkan.

Tidak sampai 1 Juli 1946, kongres yang dilangsungkan di Luxembourg dipertemukan kembali untuk membicarakan perhelatan Piala Dunia berikutnya.

Tiga puluh empat asosiasi yang telah diwakili setiap negara memberikan Rimet hadiah berupa “Yubelium” karena telah menjadi Presiden FIFA selama hapir seperempat abad atau sekitar 25 tahun. Dengan jasanya yang begitu besar dan untuk mengenang beliau yang meninggal pada 16 Oktober 1956, trofi Piala Jules Rimet atau yang kita kenal sekarang sebagai Piala Dunia FIFA.

Sebagai satu-satunya kandidat, Brazil dipilih dengan suara terbanyak untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA berikutnya, yang akan dipentaskan pada tahun 1949 (dan ditunda hingga 1950 karena alasan waktu). Pada saat yang sama, Swiss menjadi pilihan berikutnya Piala Dunia untuk tahun 1954.

Penambahan 48 Tim di Piala Dunia 2026

Presiden FIFA, Gianni Infantino, dengan teguh mengatakan jika keputusannya tersebut sudah bulat untuk memperluas Piala Dunia dari 32 tim nasional yang bersaing menjadi 48, yang akan dimulai dengan turnamen 2026.

Pada pertemuan yang dilakukan di Zurich, dewan pembuat peraturan FIFA dengan suara bulat mengeluarkan format baru, yang akan membuat putaran pertama dari 16 grup, dimana dua dari tiga tim akan lolos dan melanjutkan ke babak berikutnya yaitu sistem gugur yang dimulai dengan 32 negara.

FIFA telah memproyeksikan bahwa peningkatan hingga 48 negara ini akan menghasilkan pendapatan sekitar $ 1 miliar dan keuntungan sekitar $ 640 juta, dari hak siar televisi yang lebih besar dari sponsor. Infantino mengatakan uang itu akan diinvestasikan kembali dalam sepakbola, dia menjanjikan 211 negara asosiasi anggota FIFA untuk membantu pembangunan senilai $ 5 juta per tahunnya.

Berbicara setelah pertemuan, Infantino berpendapat bahwa turnamen yang diperluas akan meningkatkan minat terhadap sepak bola di seluruh dunia yang melibatkan lebih banyak negara tersebut, sementara itu para pemain tidak akan terbebani dengan lebih banyak pertandingan.

Menanggapi kerasnya kritik dari Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) dan European Club Association (ECA), yang mencemooh keputusan FIFA tersebut dibuat hanya untuk “alasan politik bukan olahraga.” Kemudian Infantino mengatakan, “Kami berada di abad ke-21, dan kita harus membentuk Piala Dunia untuk abad ke-21. Sepak bola lebih dari Eropa dan Amerika Selatan karena sepakbola adalah global,” ungkapnya.

Sebelum saya (Infantino) mengecek beberapa jurnal ilmiah yang terkait, saya sempat melihat komentar Jose Mourinho, manajer Manchester United, di situs FIFA.com yang mengomentari penyelenggaraan Piala Dunia dengan format 48 tim.

“Aku sangat setuju. Sebagai manajer kesebelasan (club), jika ekspansi itu berarti akan ada lebih banyak pertandingan, lebih sedikit liburan, dan lebih sedikit pra-musim untuk para pemain, aku akan berkata tidak,” kata Mourinho.

“Tapi penting bagi para pengkritik untuk menganalisis dan memahami bahwa ekspansi tersebut tidak berarti lebih banyak pertandingan. Para pemain akan terlindungi dan kesebelasan akan terlindungi dengan cara ini,” kata manajer asal Portugal tersebut.

Perkataan Mourinho tersebut ternyata ada benarnya. Sebenarnya, jika kita melihat rentang waktu yang sama, yaitu kira-kira satu bulan penyelenggaraan Piala Dunia, satu tim yang menjadi juara akan memainkan tujuh pertandingan dari awal turnamen, dengan rincian:

“Tiga pertandingan babak grup, serta empat sisanya adalah masing-masing satu pertandingan perdelapanfinal (16 besar), perempatfinal, semifinal, dan final.”

Hal ini juga akan berulang pada penyelenggaraan Piala Dunia dengan format 48 tim yang akan terjadi nanti, yaitu:

“Dua pertandingan babak grup, serta lima pertandingan sisanya adalah masing-masing satu dari perenambelasfinal (32 besar), perdelapanfinal (16 besar), perempatfinal, semifinal, dan final.”

Ini artinya, jumlah pertandingan pada rentan satu turnamen memang akan bertambah, tepatnya bertambah 26 pertandingan dari 64 ke 80 pertandingan. Namun, jumlah pertandingan yang dilalui oleh tim yang bisa mencapai empat besar (juara, runner-up, peringkat ketiga, dan keempat) adalah tetap sama, yaitu tujuh pertandingan.

Dari pembahasan di atas, maka efek kelelahan akan tetap sama bagi pemain yang timnasnya bisa sampai ke empat besar. Perbedaannya tidak akan menjadi signifikan kecuali mengenai akumulasi dari jarak tempuh, cuaca, dan ketinggian daerah, yang ketiganya akan sangat bergantung dari siapa yang akan menjadi tuan rumah, bukan jumlah tim yang berpartisipasi.

Jika Benar, Akan Menjadi Menarik Secara Hiburan

Dalam grup yang berisi tiga tim yang dua di antaranya akan lolos ke babak selanjutnya, kita mungkin akan memandang kalau hal ini akan mengurangi gengsi pertandingan. Pada kenyataannya nanti, pengurangan gengsi pertandingan ini akan terjadi lebih karena akan ada banyaknya negara yang berpartisipasi.

Dalam pelaksanaannya, meskipun belum ada informasi pasti, jumlah peserta Piala Dunia berformat 48 tim akan terbagi jatahnya sebagai berikut:

Eropa 16 tim (saat ini 13), Afrika 9 (5), Asia 8,5 (4,5), Amerika Selatan 6 (4,5), CONCACAF 6,5 (3,5), Oseania 1 (0,5), dan tuan rumah 1 (1).

Angka setengah (0,5) di atas berarti adalah tim dari konfederasi tersebut harus melakukan babak play-off. Saat ini negara anggota FIFA berjumlah 211. Maka tidak bisa dipungkiri jika format 48 tim akan mengikutsertakan tim-tim cupu, terutama dari Asia, untuk bisa lolos ke babak final Piala Dunia nantinya, dengan Indonesia (semoga) adalah salah satunya.

Dari grup berisi tiga tim ini, akan ada dua pertandingan yang sangat krusial bagi tim-tim tersebut, terutama tim cupu. Dua pertandingan di grup ini akan menentukan apakah tim itu lolos ke knock-out atau harus pulang. Dengan format ini, maka babak grup mungkin akan tidak terlalu seru, terutama bagi grup yang melibatkan tim cupu.

Namun ini bukan pemandangan langka, mengingat pada grup berisi empat tim juga terkadang kita bisa melihat adanya tim yang sudah memastikan diri lolos atau tidak lolos, sehingga pertandingan terakhir (pertandingan ketiga) akan menjadi formalitas belaka.

Hal ini masih lebih bisa diterima, setidaknya, daripada format Piala Eropa dengan 24 tim yang memiliki satu grup (dari enam grup) berisi empat tim yang dua tim teratasnya lolos, sementara peringkat ketiga bisa lolos sebagai salah satu dari empat peringkat tiga terbaik.

Membacanya saja sudah pusing, kan? Hal ini telah terjadi, ketika Portugal yang menjuarai Piala Eropa 2016 dengan cara ini, yaitu menjadi “peringkat ketiga terbaik” di grupnya.

Benarkah Indonesia dan Thailand Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2034?

Pencalonan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 bersama Thailand perlu dikaji ulang. Menurut Ketua Umum Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI) Sarman El Hakim, keputusan yang dihasilkan oleh konsorsium ASEAN Football Federation (AFF) itu dianggap sangat merugikan secara politik, ekonomi, dan sosial budaya.

“Secara tidak langsung ini mengecilkan kemampuan bangsa Indonesia di mata dunia internasional,” kata Sarman lewat siaran pers, Jumat (6/10).

Sarman mengatakan, sebelumnya Indonesia pernah mencalonkan diri sebagai calon tuan rumah Piala Dunia 2022, meski akhirnya FIFA menunjuk Qatar sebagai penyelenggara, mewakili negara-negara yang berada di bawah Asian Football Confederation (AFC).

Oleh karena itu, seharusnya pemerintah dan PSSI mengkaji ulang keputusan tersebut, karena FIFA hanya mengakui lima federasi sepak bola dunia, yakni Asian Football Confederation (AFC), Confederation Africaine de Football (CAF), Confederation of North, Central American and Caribbean Association Football (CONCACAF), Confederacion Sudamericana de Futbol (CONMEBOL), dan Union of European Football Association (UEFA).

“Menjadi penyelenggara Piala Dunia adalah salah satu pesan konstitusi, yaitu melaksanakan politik luar negeri bebas aktif. Dan, Indonesia adalah salah satu negara potensial yang memiliki keunggulan kooperatif dibandingkan negara lainnya, di kawasan Asia, Afrika, Amerika bahkan Eropa untuk menggelar pertandingan sepak bola terbesar di dunia,” ujarnya.

Sebelumnya, pertemuan delegasi federasi sepak bola ASEAN (AFF) pada Sabtu, September 2017 lalu menghasilkan keputusan, di mana Indonesia bersama Thailand akan mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Keputusan ini pun sudah mendapatkan persetujuan dari Presiden Joko Widodo.

Kesimpulan

Memang masih belum ditentukan siapa yang akan menjadi tuan rumah di Piala Dunia 2026 nanti. Tapi, membaca pola yang ada sejauh ini, ada kemungkinan Piala Dunia 2026 nanti akan diselenggarakan di zona CONCACAF (Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Kepulauan Karibia) atau UEFA (Eropa) lagi.

Infantino mengatakan alasannya mengusulkan ide ini karena termotivasi untuk memberikan kesempatan bagi banyak negara untuk bermain di Piala Dunia. Penambahan jumlah peserta Piala Dunia ini memang akan membuat negara-negara yang selama ini sulit untuk lolos ke Piala Dunia mendapatkan secercah harapan termasuk di dalamnya Indonesia.

Atau mungkin bisa saja Piala Dunia akan dibuat di berbagai negara seperti Piala Eropa 2020? Dan jangan lupa juga kalau ada zona OFC (Oseania) yang belum pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Akan tetapi biar bagaimanapun, kita memang tidak bisa berharap sepakbola akan berkembang di acara seperti Piala Dunia (termasuk juga Olimpiade dan PON) secara kualitas permainan.

Satu hal yang jelas potesial, Piala Dunia akan lebih cenderung bertindak sebagai acara sosial, budaya, dan ekonomi alih-alih acara olahraga dengan format 48 tim. Itu yang menjadi hal positif yang bisa kita ambil dari perspektif turisme olahraga, manajemen, sosial, budaya, dan ekonomi.

Infantino mengusulkan ide ini karena termotivasi untuk memberikan kesempatan bagi banyak negara untuk bermain di Piala Dunia. Penambahan jumlah peserta Piala Dunia ini memang akan membuat negara-negara yang selama ini sulit untuk lolos ke Piala Dunia mendapatkan secercah harapan termasuk di dalamnya Indonesia.

Bagaimana menurut anda, setujukah dengan format 48 tim yang akan berlangsung di Piala Dunia 2026 nanti?